BERI YANG MEREKA MAU

3 Jul

Lina dengan telaten menuliskan daftar belanja bulanan di atas secarik kertas. Pikirannya lancar mengingat semua keperluan yang dibutuhkan keluarganya untuk satu bulan. Garam, gula, sabun mandi, sabun cuci, susu anak-anak pokoknya lengkap deh. Sampai pada saat tak ada lagi nama barang yang muncul di kepalanya dia pun berhenti menulis dan tersenyum simpul karena setelah dihitung masih ada sisa uang belanja. Mau di pake apa ya, mungkin begitu pikirnya.

Gaji suaminya memang cukup besar untuk menutupi biaya belanja bulanan, bahkan Lina sendiri bekerja partime di sebuah perusahan advertising. Artinya Lina gak perlu putar otak lagi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

Berangkatlah Lina ke Swalayan dengan membawa mobil sendiri diantar suami dan anaknya yang pertama. Tiba disana Lina tak lupa melirik kesana- kemari melihat hal-hal yang menarik perhatian di sepanjang lorong mall yang menuju ke swalayan. Suami dan anaknya pun demikian. Suaminya sempat berhenti berjalan ketika melihat bursa komputer yang menawarkan laptop jenis terbaru, padahal laptopnya yang terakhir baru di beli 4 bulan yang lalu dan masih ”bandel”. Anaknya terhenti pada sebuah stand boneka sponge bob padahal kama rnya sudah menguning gara-gara dipenuhi ornamen-ornamen si tokoh busa persegi tersebut. Lina hanya bisa menarik kedua tangan mereka untuk terus melanjutkan perjalanan, walaupun matanya pun terus menoleh ke counter sepatu wanita di ujung yang lain.

Belanja bulanan pun dimulai. Satu demi satu daftar barang yang ada di daftar di cari dan dimasukkan ke dalam kereta belanja. Lagi-lagi anaknya tidak pernah konsentrasi membantu karena pikirannya terkonsentrasi kepada buku komik jepang yang baru saja diambilnya untuk melengkapi 100 seri komiknya. Suaminya tetap sabar mendorong kereta walau matanya sibuk mencari barang-barang yang menarik sehingga ia tidak dapat mengontrol Lina yang sudah selesai denagn daftar belanjaannya tapi masih berputar-putar dan memasukkan barang-barang baru ke kereta belanja.
Padahal gak ada di daftar tuh !

Di rumah, sang suami kaget melihat begitu banyak barang yang terbeli. Kalau di sensus mungkin hanya 70 % saja barang yang di beli berdasarkan kebutuhan, sedangkan yang 30 % sisanya di beli berdasarkan kemauan walaupun tidak butuh sama sekali. Tapi masa bodoh lah, toh tidak akan menggangu keuangan keluarga mereka. Dan yang terpenting mereka merasa puas dan senang dengan membeli barang-barang yang mereka mau. Anaknya langsung mencoba tas kuning barunya bergambar sponge bob lalu memindahkan isi tas lamanya yang sebetulnya masih baru. Senyumnya tampak merekah. Lina sedang membaca buku petunjuk alat pembuat kopi yang bentuknya indah, walau ia tahu suaminya tidak terlalu suka kopi kecuali kalau ia mau kerja lembur atau nonton bola. Ia senyam-senyum karena barang idamannya terbeli juga. Suaminya tidak mau kalah, ia langsung mengambil majalah Komputer terbitan baru walau ia sebenarnya tidak begitu mengerti tentang komputer. Cuma ingin tahu harga-harga komputer aja kok. Tidak lupa ia mengambil kartu debit yang tadi di pakai untuk membayar belanjaan dari tangan Lina dan buru-buru memasukkannya kembali ke dompetnya.

Begitulah perilaku konsumen terhadap barang yang ditawarkan. Sebagian besar mereka akan mencari barang yang di inginkan bukan barang yang dibutuhkan apalagi dengan didukung oleh daya beli yang kuat. Kesannya konsumen lebih mengedepankan emosi untuk membeli (konsumtif) di banding akal sehat untuk memilih barang yang ditawarkan.

Emosi inilah yang kemudian dimanipulasi oleh orang marketing untuk menghasilkan uang. Dengan teknik marketing mereka berhasil memasuki pikiran konsumen dan membangkitkan keinginan untuk membeli. Mirip-mirip Dedy Corbuzier kali ya.

Para marketer lalu bagaikan singa lapar berusaha melahap informasi tentang keinginan-keinginan konsumen. Begitu info di dapat mereka melakukan studi kelayakan produk lalu jika tak ada masalah meluncurlah sebuah produk yang dibuat untuk memenuhi kemauan (mungkin juga kebutuhan) konsumen.

Kita jadi teringat hukum ekonomi yang mengatakan keinginan manusia tidak ada batasnya. Jadi kesannya memang manusia dianggap sebagai makhluk yang tak pernah puas memenuhi keinginannya. Jangan harap barang anda terbeli ketika ditawarkan kepada orang yang tidak membutuhkan sebagus apapun barang itu. Coba Anda jualan minuman dingin di Alaska, mungkin Anda perlu menebalkan telinga untuk menerima cemoohan atau lirikan aneh pembeli.

Bagaimana menurut Anda ?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: